Mengenal Salah Satu Sejarah Perpustakaan di Dunia

SALAH satu sisi kemajuan peradaban Islam di masa lalu adalah berkembanganya literatur dan khazanah keilmuan. Perpustakaan muncul di banyak tempat. Yang terkenal ada perpustakaan Al-Hikmah di Baghdad, juga Alekxandria. Dari perpustakaan inilah lahir penulis, cendekiawan dan ilmuwan muslim handal. Berikut 4 perpustakaan yang mempunyai kontribusi besar dalam melahirkan ilmuwan muslim kelas dunia.

1. Bibliotheca Alexandrina Egypt

(Perpustakaan Iskandariah Mesir) merupakan perpustakaan pertama dan terbesar di dunia. Perpustakaan ini bahkan bertahan selama berabad-abad dan memiliki koleksi 700.000 gulungan papyrus, bahkan jika dibandingkan dengan Perpustakaan Sorbonne di abad ke-14 ‘hanya’ memiliki koleksi 1700 buku. Perpustakaan ini di dirikan oleh Ptolemi I sang penerus Alexander(Iskandariah) pada tahun 323 SM, dan terus berlanjut sampai kekuasaan Ptolemi III.

Pada waktu itu para penguasa mesir begitu besemangat memajukan Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan mereka, bahkan dalam Manuskrip Roma mengatakan bahwa sang Raja mesir membelanjakan harta kerajaan untuk membeli buku dari seluruh pelosok negeri hingga terkumpul 442.800 buku dan 90.000 lainnya berbentuk ringkasan tak berjilid. Ia juga memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah.

Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya.

Namun cerita keemasan ini hanya menjadi sejarah. Ialah ketuka penaklukan bangsa Romawi yang di pimpin oleh Julius Caesar pada tahun 48 SM. Bangsa Romawi membakar 400.000 buku musnah menjadi abu using yang tak berguna. Dunia ilmu saat itu sangat berduka karena telah kehilangan salah satu sumber ilmu pengetahuan terbaik saat itu. Namun akhirnya sang Kaisar, Julius Caesar meminta maaf, dan sebagai gantinya ia mengirim Marx Antonio untuk menghadiahkan 200.000 buku dari Roma kepada Ratu mesir saat itu, Cleopatra, dan dari inilah kisah mereka berlanjut. Namun perpustakaan megah yang ada di mesir tersebut tak pernah kembali seperti masa-masa keemasanya. Sejak pembakaran tersebut, Perpustakaan Iskadariah seolah tak terurus.

2. Perpustakaan Bait al-Hikmah Baghdad

Perpustakaan terbesar yang melahirkan cendikiawan Muslim masa keemasan. Mungkin yang paling layak disebut pertama kali adalah Bait al-Hikmah di Baghdad, ibu kota daulah Abbasiyah. Ketika khalifah Al-Mansûr (170 H) berkuasa, manuskrip-manuskrip yang dikoleksinya sempat membuat sesak istana khalifah. Sampai kemudian keponakannya, Harun Al-Rasyid, naik tahta. Al-Rasyid-lah yang kemudian berinisiatif untuk mengeluarkan buku dan manuskrip dari dalam istana dan membangun perpustakaan yang bisa dinikmati oleh khalayak umum. Ia kemudian diberi nama Bait Al-Himah. Inilah perpustakaan pertama dan terbesar dalam sejarah bangsa Arab-Islam.

Dalam Bait al-Hikmah, ada semacam stand khusus terjemah manuskrip kuno dari Yunani, Romawi, dan Persia. Megaproyek ini dikomandani oleh Yuhana bin Masawiyah, yang diprioritaskan untuk menterjemah teks-teks Suryani ke dalam bahasa Arab. Adapun teks-teks Persia yang mengupas tentang ilmu filsafat dan astronomi diterjemah oleh Abu Sahl al-Fadl bin Nubikht, sebagai penerus proyek Ibnu al-Muqaffa’.

Saat al-Rasyid tutup umur, Al-Makmun putera beliau yang melanjutkan roda pemerintahannya, tak mau kalah untuk berkonstribusi mengembangkan Bait Al-Hikmah. Ia mengirim beberapa pakar ke Asia Tengah, India, Ethiopia, dan kawasan Kaukasus untuk mendapat tambahan koleksi perpustakaan negara. Konon, untuk terjemah dari Yunani ke Arab saja, pemerintah menghabiskan dana sekitar 300 ribu dinar.

3. Perpustakaan Al-Azîz Billah Kairo

Dinasti Fatimiyah yang berdiri di Kairo bisa dibilang sebagai sebuah negara otonomi Abbasiyah. Bahkan dianggap akan menggoyah eksistensi Abbasiyah di Baghdad. Tak hanya persaingan politik dan madzhab yang menghiasi perjalan dua dinasti Islam tersebut, tapi juga budaya dan pemikirannya. Meski secara historis, dinasti Fatimiyah relatif lebih muda 1 ½ abad dari Abbasiyah yang berdiri pada abad kedua, tapi kebijakan Fatimiyah tak kalah bersaing dari induknya.

Perpustakaan ini didirikan oleh khalifah Al-Aziz Billah (365 H) setelah naik tahta menggantikan ayahandanya, Al-Mu’iz Lidinillah. Awalnya perpustakaan ini hanya berawal dari hobi baca sang khalifah, yang tak segan membelanjakan hartanya demi sebuah buku yang sedang diburu. Konon setiap kali khalifah Al-Aziz menemukan sebuah buku yang ‘menyihir’nya, dia akan segera menyuruh nussakh untuk menggandakan.

Bahkan kitab al-Ainnya Al-Khalil Bin Ahmad saja digandakan sampai 30 eksemplar. Perpustakaan ini terus berkembang hingga koleksi buku yang ada mencapai jutaan. Menurut Dr. Musthafa al-Siba’i jumlah berkisar antara 1-2 juta koleksi buku.

Koleksi buku yang ada saat itu hanya sebagai ekspresi bangga diri dan persaingan politik semata layaknya masa dinasti Ustmaniyah, tapi khalifah Al-Aziz Billah benar-benar seorang penguasa yang memiliki perhatian khusus pada buku. Ibnu Khalkan bercerita bahwa sang khalifah kerap keluar masuk perpustakaan, mengawasi sendiri koleksi buku-bukunya, dan bahkan berjam-jam membaca dan mendiskusikannya pada para penasehat dan ilmuwan yang sengaja diundangnya ke Kairo.

4. Perpustakaan Al-Zahra’ di Cordoba Spanyol

Ketika dinasti Abbasiyah berhasil menggulingkan Umawiyah (132 H), di saat yang sama beberapa penguasa Umawiyah yang melarikan diri berhasil membuka dunia baru, Maroko-Spanyol. Diantara pemimpin Umawiyah yang paling fenomenal adalah Abdurrahman Al-Dâkhil. Semenjak Andalusia ditaklukkannya, para penguasa Umawiyah seperti ‘mendapat angin’ untuk mempertahankan eksistensinya, di Andalusia inilah mereka membangun peradaban baru.

Masa keemasan Andalusia dapat disaksikan ketika khalifah VIII, Abdurrahman Al-Nâshir, naik tahta. Andalusia menjadi kiblat ilmu, seni, dan sastra dunia. Al-Nâshir menjadi sosok di balik kejayaan Andalusia, ia berhasil mendidik putera mahkotanya menjadi pribadi yang cinta ilmu. Al-Mustanshir, gelar itulah yang disematkan pada putera mahkota. Di masa kepemimpinan Al-Mustanshir, perpustakaan ini didirikan. Para pakar kepustakaanpun dikumpulkan dari seluruh penjuru negeri untuk mewujudakan pelayanan terbaik buat rakyatnya.

Ada yang membedakan tradisi perpustakaan di Timur (meliputi Baghdad, Kairo, dan sekitarnya) dan Barat (Spanyol, Maroko). Pertama jika di Baghdad menterjemahkan literatur kuno ke dalam bahasa Arab, maka di Còrdoba menterjemahkan teks-teks buku berbahasa Arab ke bahasa Latin.

Kedua para ilmuwan muslim di Baghdad sibuk menyelami literatur-literatur klasik untuk memperkaya khazanah Islam, sementara di Còrdoba ‘melompat jauh’ untuk memperkenalkan literatur Arab-Islam pada bangsa Eropa, yang waktu itu masih mempelajari spirit modernitas ala Islam Còrdoba. Ketiga di Baghdad peran perempuan dalam dunia pustaka terpinggirkan, namun di Còrdoba cenderung lebih perduli jender: tercatat lebih dari 170 wanita bertugas sebagai penulis dan penterjemah di perpustakaan Al-Zahrâ.

sumber: newsjid.com/berbagai sumber

Perpustakaan Digital

Perpustakaan digital (Inggris: digital library atau electronic library atau virtual library) adalah perpustakaan yang mempunyai koleksi buku sebagian besar dalam bentuk format digital dan yang bisa diakses dengan komputer. Jenis perpustakaan ini berbeda dengan jenis perpustakaan konvensional yang berupa kumpulan buku tercetak, film mikro (microform dan microfiche), ataupun kumpulan kaset audio, video, dll. Isi dari perpustakaan digital berada dalam suatu komputer server yang bisa ditempatkan secara lokal, maupun di lokasi yang jauh, namun dapat diakses dengan cepat dan mudah lewat jaringan komputer.

Istilah perpustakaan digital pertama kali diperkenalkan lewat proyek NSF/DARPA/NASA: Digital Libraries Initiative pada tahun 1994. Perpustakaan digital yang paling banyak dikenal saat ini adalah Proyek Gutenberg, ibiblio dan Internet Archive, serta proyek yayasan Wikimedia ini sendiri (termasuk wikisource, wikipedia, Wiktionary, Wikiquote, Wikibooks, Wikinews, Wikispecies, Wikiversity, Commons, Meta-Wiki, MediaWiki, dll).

Dari Wikipedia

Sejarah Perpustakaan Kerajaan Ashurbanipal

Dunia Perpustakaan | Perpustakaan Ashurbanipal ditemukan di pertengahan abad ke-19 oleh Austen Henry Layard di kota Mesopatamian Niniwe (Irak) dan kumpulan sekitar 25.000 tablet fragmen tanah liat,
Ashurbanipal adalah raja Asyur selama puncak prestasi militer dan budaya Asiria, tapi di luar ini ia adalah seorang kolektor teks yang mengirim ahli-ahli Taurat di seluruh Kekaisaran nya demi mencari tambahan untuk koleksi perpustakaan.

Perpustakaan itu sendiri adalah salah satu yang terbesar waktu itu dan berisi sekitar 1200 teks. Teks-teks ini termasuk prasasti kerajaan, kronik, teks mitologi dan agama, kontrak, hibah keputusan kerajaan, surat-surat kerajaan, pertanda, mantra, himne untuk berbagai dewa dan teks pada kedokteran, astronomi, dan sastra.

Beberapa sastra termasuk epik Gilgamesh, kidsh yang dibuat oleh Enuma Elis, mitos Adapa dan Manusia Miskin dari Nippur. Pada tahun 612 SM, Niniwe dihancurkan oleh aliansi Babilonia, Scythians dan Media dan istana dibakar, sehingga membuat tanah liat yang membungkus teks-teks itu ‘matang’.

Terkubur selama berabad-abad oleh penjajah, Perpustakaan Kerajaan Ashurbanipal memberikan banyak ahli informasi berharga tentang penduduk kuno Timur tengah.

Selain epik Gilgamesh salah satu teks yang paling penting yang ditemukan di situs adalah daftar yang hampir lengkap dari penguasa Timur Tengah kuno.

Sumber: seruu.com

Al-Qur’an Abad ke-8 Dipamerkan di Perpustakaan Inggris

Di negara-negara Eropa, Manuskrip Kuno begitu sangat dijaga dan dipelihara dengan sangat baik.

Bahkan tidak hanya dirawat, namun manuskrip-manuskrip kuno tersebut pada waktu-waktu tertentu juga dipamerkan kepada publik.

Seperti yang baru-baru ini dilakukan di salah satu Perpustakaan di Inggris yang memamerkan manuskrip Alquran yang berasal dari abad ke-8.

Dikutip dari republika.co.id [10/4/15], diberitakan jika Perpustakaan Inggris memamerkan manuskrip Alquran yang berasal dari abad ke-8. Alquran ini dipamerkan secara digital oleh pihak perpustakaan.

Manuskrip dengan 121 halaman ini merupakan salah satu salinan Alquran tertua di dunia. Manuskrip ini mengandung sepertiga dari teks Alquran.

Perpustakaan membeli manuskrip tersebut pada 1879 dari seorang pendeta Kristen yang memiliki ketertarikan besar di bidang arkeologi termasuk ilmu tentang bangsa Mesir. Sang pendeta melakukan banyak perjalanan ke Mesir tempat ia membeli sejumlah naskah kuno dan membawanya ke Inggris.

Selain naskah ini, Perpustakaan Inggris juga memamerkan sejumlah naskah lainnya dari abad ke-14 secara digital.

Perpustakaan Inggris merupakan perpustakaan kedua terbesar di dunia yang terdiri dari berbagai jenis katalog di dalamnya

Buku-buku Abad Ke-17 Di Ikat Menggunakan Kulit Manusia

TIDAK Semua buku dibuat dengan kertas ataupun dengan kulit hewan di zaman dulu. Berdasarkan sejarah, ada juga buku yang ternyata diikat dengan menggunakan kulit manusia. Mengerikan bukan?

Meski terdengar sangat mengerikan dan menakutkan, akan tetapi buku abad ke-17 ini memang nyata dan diduga diikat menggunakan kulit manusia. Saat ini, sekelompok peneliti yang berasal dari dari University of Notre Dame sedang melakukan investigasi terhadap buku-buku tersebut.

Pada tahun yang lalu, beberapa pengajar di Harvard mengumumkan bahwa salah satu koleksi buku di perpustakaannya kemungkinan terbuat dari bahan kulit manusia. Para ilmuwan kemudian mengujinya dan satu demi satu fakta mengejutkan bermunculan.

Dikutip dari detikHOT yang melansir dari Buzzfeed, Rabu (17/6/2015), tim peneliti Notre Dame saat ini sedang mengirimkan sampel buku-buku tersebut ke salah satu kantor pemeriksa pemerintahan yang berlokasi di kota New York.

Dalam sebuah kliping koran, Christopher Columbus juga pernah mengatakan jika dirinya pernah memiliki buku miliknya yang diikat dengan pengikatnya yang berasal dari kulit kepala suku Moor. Akan tetapi, bukti lain ada yang memperlihatkan jika ternyata seorang kolektor Jerman juga mengaku pernah memiliki buku tersebut. Di kliping korannya disebutkan, “Secara khusus prasasti berbunyi ‘Sum Christophori Binderi’ atau Christophorus Binderus’.

Pihak universitas sendiri saat ini berspekulasi jika buku itu diperolehnya sekitar tahun 1916. Fakta yang lain juga terungkap juga muncul di kliping koran lainnya, “Buku itu terikat di kulit kepala suku Moor yang bermusuhan dan pernah menyiksa orang-orang Kristen di Spanyol.” Salah seorang tim peneliti bernama Donovan mengatakan jika pada abad ke-19, buku yang diikatkan menggunakan kulit manusia itu dianggap wajar dan lumrah dibuat.

“Mereka umumnya menggunakannya untuk mengikat buku-buku masalah kesehatan atau obat-obatan,” katanya lagi. Serem juga ya! Hiiiii…..

Perpustakaan yang Menyimpan Teks Kuno Peradaban Islam?

SEJARAH mencatat bahwa kecintaan Islam saat era keemasanya tidak terlepas dari buku dan perpustakaan.

Perpustakaan yang berada di tengah Gurun Sahara tepatnya Negara Mauritania menjadi bukti bahwa Islam sangat maju saat itu.

Didirikan pada abad ke-13, kota kuno Chinguetti merupakan salah satu rute yang dilalui oleh pedagang Arab dan Afrika di Gurun Sahara. Sebuah Kota kecil yang mengundang banyak pelancong untuk mengagumi kemegahan bangunannya, hingga perpustakaannya yang kuno.

Namun tidak hanya pedagang, Chinguetti juga menjadi tempat transit para peziarah Muslim dalam perjalanan ke Makkah. Tidak heran kalau di Chinguetti dapat ditemukan masjid. Tidak jarang para peziarah juga meninggalkan teks Islam di perpustakaan Chinguetti, sebuah tradisi yang berlangsung lama.

Jika Anda termasuk traveler penikmat buku dan peradaban Timur Tengah, mungkin akan sangat gembira jika liburan ke Chinguetti. Terdapat setidaknya 5 perpustakaan kuno di Chinguetti yang menyimpan sekitar 1.300 naskah Al-Quran.

Zaman dahulu para pelajar memang senang mempelajari teks Al-Quran untuk mempelajari hukum Islam. Tentunya suasana dan buku yang ada di perpustakaan Chinguetti adalah sama seperti yang dilihat para khalifah dan pelajar Islam dahulu kala. Tidak ada perubahan dan masih begitu otentik.

Siapa pun diperkenankan datang untuk membaca buku di dalam perpustakaan secara cuma-cuma. Menurut para pemilik perpustakaan, memiliki perpustakaan adalah sebuah status yang tinggi dan bukan sumber pendapatan, diungkapkan fotografer Michael Huniewicz seperti diberitakan Daily Mail.

Sayang, letaknya yang berada di tengah Gurun Sahara menjadikannya begitu rentan terkena badai pasir. Perlahan pasir pun seakan mulai menelan kota kuno Chinguetti. Udara yang kering hingga pasir pun berpotensi untuk merusak teks kuno yang ada di perpustakaan.

Adapun sejumlah bentuk penyelamatan seperti relokasi telah direncanakan. Namun sang pemilik perpustakaan kelihatannya masih menolak ide tersebut dan lebih memilih menjaganya secara tradisional.

Bahkan salah satu tokoh ternama, Ibnu Battuta pernah singgah ke Chinguetti dalam perjalanannya menuju Tiongkok. Selain itu Chinguetti juga merupakan rumah bagi sekitar 4.000 penduduknya. UNESCO pun telah menetapkan Chinguetti sebagai ‘Situs Sejarah Warisan UNESCO’ pada tahun 2000.

Orang Mesir percaya kalau Gurun Sahara merupakan tempat dari orang-orang mati. Namun dibalik gersangnya Gurun Sahara, terdapat pengetahuan yang diturunkan secara turun temurun di perpustakaan Chinguetti. Bahkan dibalik kegersangan, tersembunyi ilmu pengetahuan.

Bukan tidak mungkin kalau Chinguetti akan hilang oleh badai pasir Gurun Sahara yang begitu ganas. Tidak ada salahnya Anda berkunjung ke Chinguetti dan mengagumi perpustakaan kuno serta kotanya.